Stop Judi Online! Larian Studios pilih Divinity baru dibanding D&D. Contoh keputusan cerdas demi visi masa depan. Jauhi judi, pilih hobi yang punya integritas.
Setelah berhasil fenomenal dalam permainan Baldur’s Gate 3, banyak faksi mengira Larian Studios akan langsung melanjutkan kerja sama dengan Wizards of the Coast untuk menggarap game Dungeons & Dragons (D&D) berikutnya. Namun kenyataannya, studio asal Belgia tersebut justru mengambil arah berbeda: kembali ke semesta Divinity dan mengembangkan IP milik mereka sendiri.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Larian secara terbuka mengungkap berbagai pertimbangan kreatif, teknis, hingga filosofi studio yang mendorong mereka menjauh dari D&D—setidaknya untuk saat ini.
Kebebasan Kreatif Jadi Faktor Utama
Menurut CEO Larian Studios, Swen Vincke, salah satu alasan terpenting adalah kebebasan kreatif. Menggarap game berbasis D&D berarti harus bekerja dalam kerangka aturan, lore, dan persetujuan lisensi tertentu. Meski kerja sama tersebut berjalan sukses, tetap ada batasan yang tidak bisa dilewati.
Sebaliknya, Divinity adalah dunia yang sepenuhnya dikendalikan Larian. Mereka bebas:
-
Menentukan arah cerita tanpa kompromi
-
Mengubah sistem gameplay secara radikal
-
Bereksperimen dengan mekanik baru tanpa terikat aturan tabletop D&D
“Memiliki IP sendiri memberi kami ruang bernapas yang jauh lebih luas,” kira-kira itulah pesan yang disampaikan Vincke dalam berbagai wawancara.
Kelelahan Setelah Proyek Raksasa Baldur’s Gate 3
Pengembangan Baldur’s Gate 3 memakan waktu hampir enam tahun, melibatkan ribuan iterasi sistem, penulisan ulang cerita, dan pengujian skala masif. Proyek sebesar itu meninggalkan kelelahan kreatif yang nyata bagi tim.
Alih-alih langsung mengerjakan D&D lagi, Larian ingin:
-
Memulai proyek baru dengan energi segar
-
Menghindari tekanan ekspektasi yang sangat tinggi
-
Memberi ruang eksplorasi ide sejak tahap awal
Divinity dianggap sebagai “rumah” yang aman untuk memulai siklus kreatif baru.
Divinity Adalah Identitas Larian
Sebelum Baldur’s Gate 3 meledak secara global, Divinity: Original Sin dan sekuelnya adalah fondasi reputasi Larian. Seri ini bukan hanya produk, melainkan identitas studio.
Dengan kembali ke Divinity, Larian ingin:
-
Mengembangkan dunia yang sudah dicintai komunitas lama
-
Membawa pelajaran dari BG3 ke IP mereka sendiri
-
Menunjukkan bahwa kesuksesan mereka bukan semata karena lisensi D&D
Ini juga menjadi pembuktian bahwa Larian mampu menciptakan RPG kelas dunia tanpa bergantung pada waralaba besar.
Tantangan Lisensi dan Arah Jangka Panjang
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kompleksitas lisensi. Mengembangkan game D&D berarti harus bergantung pada kebijakan dan strategi bisnis pihak lain. Sementara dengan IP sendiri, Larian memiliki kontrol penuh atas:
-
Jadwal rilis
-
Monetisasi
-
Ekspansi dan sekuel
Untuk jangka panjang, membangun Divinity dipandang lebih berkelanjutan dan stabil bagi studio.
Bukan Berpisah, Tapi Rehat dari D&D
Larian menegaskan bahwa keputusan ini bukan berarti memutus hubungan dengan Dungeons & Dragons. Mereka tetap menghormati IP tersebut dan membuka kemungkinan kerja sama di masa depan.
Namun untuk saat ini, fokus utama mereka adalah menciptakan game Divinity generasi baru yang memanfaatkan teknologi, desain, dan pengalaman yang telah mereka asah lewat Baldur’s Gate 3.
Keputusan Larian Studios untuk membuat game Divinity baru ketimbang D&D berakar pada kebebasan kreatif, identitas studio, serta visi jangka panjang. Setelah mencetak sejarah lewat Baldur’s Gate 3, Larian memilih kembali ke akar—bukan mundur, melainkan melangkah lebih bebas.
Bagi penggemar RPG, ini berarti satu hal: Divinity berikutnya berpotensi menjadi RPG ambisius yang lahir tanpa batasan.

https://shorturl.fm/fqLEG
https://shorturl.fm/6c7OU